Saya mulai jadi ‘penghobi ikan’ di awal September 2020. Seekor ikan cupang half-moon di dalam bowl kaca jadi yang pertama.

Tidak lebih dari seminggu melihat Jeff (nama pemberian buat ikannya) di dalam bowl, “kok rasanya sempit banget yak?”

Lalu, saya ganti dengan dekstop aquarium dengan ukuran sekitar 8 liter. Terus, “kok rasanya dia kesepian banget ya?”

Saya berikan beberapa teman, ada guppy, udang, keong dan tiger barb. Hasilnya? Dalam kurun waktu seminggu, hanya tersisa keong, guppy dan tiger barb.

Dan saya baru tau kalau tiger barb alias ikan sumatra itu tipikal ikan yang suka nyemil sirip ikan lain.

Ya, jadilah tiger barb diungsikan ke tempat lain dan yang tersisa di desktop aquarium utama adalah si Jeff, tiga guppy dan para keong. Udangnya kemana? Mungkin dicemilin ikan sumatra juga.

Mendekati akhir November, saya menata ulang kamar dan “kok rasanya ada tempat untuk bikin akuarium yang lebih gede ya?”

Membeli peralatan dicicil-cicil sedikit demi sedikit, mulai dari tank aquarium, filter dan pernik-perniknya. Awalnya sih mau buat aquascape dengan style Iwagumi yang kayaknya simple tapi keren banget.

Tapi, niatan tiba-tiba berbelok setelah melihat goldfish Ranchu yang lucu-lucu.

Saya malah intensif banget nonton video Youtube (baca: riset) soal goldfish alias ikan mas koki. Mulai dari ukuran tank yang direkomendasikan, sistem filtrasi, substrate yang digunakan dan lain sebagainya.

Beberapa hal tentang goldfish seperti:

  • Suhu air yang lebih dingin
  • Akuarium minim hiasan
  • Ikan yang panjang umur

Seakan cocok banget dengan ekosistem aquarium yang saya inginkan. Saya pengennya punya akurium yang minim hiasan, bahkan kalau bisa tanpa tanaman air kecuali mungkin nanti moss ball.

Dan ikan mas koki ternyata punya ‘angka harapan hidup ikan’ antara 10-15 tahun, dibanding ikan cupang yang hanya 2-6 tahun.

Pada akhirnya, akuarium yang saya buat memang lebih cocok untuk goldfish dibandingkan untuk betta fish.

Sekarang, sedikit cerita tentang mencari calon penghuninya.

Awalnya, saya pengen banget pelihara Ranchu yang lucu-lucu. Tapi eh tapi, ternyata saya dipertemukan dengan Balinese Goldfish alias Ikan Mas Koki Bali.

Menurut legenda, ikan ini merupakan hadiah dari seorang saudagar Tiongkok kepada Raja Bali Kuno, Jayapangus. Jadi, ikan-ikan mas koki Bali yang ada saat ini ‘KEMUNGKINAN’ adalah keturunan dari ikan hias sang raja.

Beberapa ciri khas dari ikan mas koki Bali adalah:

  • tidak memiliki sungut,
  • mata bulat yang menonjol keluar,
  • badan pendek, bulat seperti telur dan
  • sirip ekor yang panjang, bahkan bisa mencapai dua kali panjang tubuhnya.

Mirip dengan Butterfly Telescope Goldfish, tapi ketika pertama kali melihat ikan mas koki Bali, pasti langsung akan merasa ada yang berbeda dengan Butterfly Telescope.

Agak sulit sebenarnya mendapatkan ikan mas koki Bali ini. Karena ikan yang sudah dewasa atau bibit unggul biasanya tidak akan dilepas oleh penghobi atau breeder. Sementara, ikan yang rela ‘dilepas’-pun harganya lumayan mahal.

Tapi, perjuangan saya akhirnya membuahkan hasil.

Saya ‘dipertemukan’ satu ikan yang bikin jatuh cinta pada pandangan pertama. Bukan ikan mas koki paling indah diantara saudara-saudaranya, tapi ‘kelakuan’ ikannya mengingatkan saya pada diri sendiri.

My 'Balinese' Goldfish - 5 months
20s of my Balinese Goldfish

Jadilah, saya pinang si ikan dari breedernya. Dan baiknya lagi, dikasi tambahan satu ikan lagi, yang walau katanya ‘reject‘ alias punya kekurangan, setidaknya sekarang punya dua ikan koki Bali di akuarium.

Shoutout buat bli Pay Barker dari Pondok Koki Bali untuk ikannya.

Akhir cerita, sekarang saya punya dua akurium. Satu yang berukuran hanya 8 liter dan menjadi penghias meja kerja dengan penghuninya seekor ikan cupang half-moon berwarna biru dan bernama Jeff.

Satu lagi adalah akuarium berukuran 45 liter dengan penghuni ikan mas koki Bali bernama Putu Ranchu dan Kadek Oranda yang ‘katanya’ keturunan ikan hias raja Bali kuno.

About the Author

Ari

Blogger and Freelance Writer // Mostly writer about video games & my random thoughts.

View All Articles