Terakhir kali saya ke DTIK Festival adalah pada tahun 2016 (baca: Melali ke DTIK Festival 2016). Setelah dua tahun absen dari festival ini, tahun ini saya berkunjung lagi. Bedanya, kali saya berkunjung sebagai bagian dari salah satu perusahaan yang memamerkan produk/layanannya, bukan sebagai pengunjung biasa.

Jika di tulisan tentang DTIK Festival sebelumnya, saya menuliskan booth/perusahaan mana yang paling menarik menurut saya, pada tulisan kali ini, saya mau menuliskan beberapa hal yang menjadi catatan saya pribadi seputar festival ini.

DTIK Festival Harus Berkembang Lebih Cepat

Kesan awal sebagai festival pra-Denfest harus segera dihapuskan oleh DTIK Festival. Teknologi berkembang sangat cepat beberapa tahun belakangan ini, hal seperti drone race mungkin tidak terpikirkan pada 2016 lalu tapi pada 2019 bahkan sudah ada perlombaan drone race.

Sayangnya, walau teknologi yang dipamerkan berkembang sangat cepat, festivalnya sendiri terkesan jalan di tempat. Tidak ada inovasi berarti dari Pemkot Denpasar khususnya Dinas Kominfo untuk ‘memperbaiki’ festival ini.

Contoh sederhananya? Walau sudah 7 tahun berjalan, DTIK Festival belum punya website resmi, akun sosial medianya tidak aktif menjelang / saat festival berlangsung.

‘Paksa’ Lebih Banyak Startup untuk Ikut Pameran

Saya melihat beberapa startup yang cukup keren tahun ini, bahkan sudah mulai ada yang memamerkan produk berupa hardware, suatu hal yang tidak saya temukan di 2016 lalu.

Masalahnya, pameran masih didominasi oleh kampus teknologi di Bali. Harusnya, DTIK Festival juga bisa mengundang lebih banyak perusahaan startup teknologi untuk memamerkan produk mereka.

Jika perlu, bantu startup untuk memamerkan produk dan layanan mereka. Untuk menekan budget, bisa memberikan 1 stan untuk dua startup yang berbeda namun pastikan dalam kategori yang berhubungan namun tidak bersaing langsung.

Berikan kesan bahwa DTIK Festival adalah tempat bagi startup kelas kecil – menengah untuk memamerkan produk/layanan mereka dan tempat bagi masyarakat untuk mendapat informasi seputar produk/layanan ini.

Ajak juga lebih banyak komunitas untuk ikut serta, pamerkan ‘produk’ mereka, sesuatu yang bisa dirasakan atau digunakan masyarakat, jangan hanya memamerkan sisi geek dari sebuah komunitas teknologi.

Cukup SATU Pintu Masuk

Saya kurang paham kenapa DTIK Festival memakai sistem dua pintu masuk/keluar. Satu pintu masuk langsung ke area pameran, sementara satu pintu lagi langsung ke area food truck.

Padahal, jika menggunakan sistem satu pintu masuk dan satu pintu keluar, pengunjung akan ‘dipaksa’ melihat area pameran yang basically adalah inti dari DTIK itu sendiri.

Memang sih, lokasinya sendiri menyulitkan hal ini, tapi bukan berarti tidak bisa dilakukan kan? Mungkin bisa dengan mengubah layout festival atau bahkan memindahkan lokasi festival ke tempat yang lebih cocok.

Promosi! Promosi! Promosi!

Terakhir adalah promosi! Saya mendengar iklan seputar DTIK Festival via radio, tapi DTIK Festival seharusnya tidak hanya promosi via radio. Sosial media adalah tempat yang paling tepat untuk event seperti DTIK Festival untuk melakukan promosi.

Jika DTIK Festival bisa memberikan exposure yang cukup, maka dalam waktu singkat akan lebih banyak perusahaan dan komunitas yang ingin ikut serta, hingga pada akhirnya akan membuat DTIK Festival bisa berkembang lebih cepat.

Kesimpulan

Itu doang sih yang ingin saya sampaikan dan semoga dibaca oleh Pemkot Denpasar untuk membuat DTIK Festival yang lebih baik di 2020. Saya masih percaya bahwa Denpasar serius ingin menjadi Smart City dan dengan serius mengelola festival ini bisa menjadi sinyal bahwa ibu kota provinsi Bali benar-benar siap menjadi kota pintar.

Author

Blogger and Freelance Writer // Mostly writer about video games & my random thoughts.

1 Comment

  1. Pingback: Let's Talk About 2020

Write A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.