Dua Alasan Utama Kenapa ClubHouse "Gagal"

#27 Dua alasan utama kenapa ClubHouse bisa dikatakan 'gagal', padahal dulu sempat sangat populer.

Dua Alasan Utama Kenapa ClubHouse "Gagal"

Beberapa bulan lalu, ClubHouse adalah salah satu sosial media paling dibicarakan di planet bumi. Tapi, hype ini tidak berlangsung lama dan akhirnya memudar.

Kini, ClubHouse sih masih ada dan ditiru oleh hampir semua sosial media besar lainnya. Misalnya Twitter dengan Space-nya, Facebook dengan Rooms-nya bahkan Spotify punya Greenroom.

Saya kurang tertarik untuk membahas bagaimana perjalanan lengkap dari awal kesuksesan hingga terpuruknya ClubHouse. Tapi, saya mau mengulik soal faktor yang menyebabkan 'kegagalan'-nya.

Berikut ini DUA alasan utama menurut saya kenapa ClubHouse bisa 'gagal'.


Early-Adopter Salah Sasaran

Sistem Invite-Only sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Banyak aplikasi memilih strategi ini karena:

  • Ingin memberikan rasa ekslusif bagi para usernya
  • Menjaga agar sistemnya agar tidak kelebihan beban
  • Melakukan kampanye Word-of-Mouth

Sayangnya, sistem invite-only milik ClubHouse ini awalnya fokus pada iOS saja, dan sangat telat untuk melakukan rilis di Android.

Hal ini menyebabkan Early-Adopter jadi punya profil tinggi (para pengguna iOS), tapi punya satu kekurangan. Mereka kurang sering memakai ClubHouse!

Sederhananya gini... Para pengguna iOS rata-rata adalah mereka yang memiliki ekonomi menengah ke atas. Mereka ini memang punya topik pembicaraan yang 'tinggi', jadi tidak aneh jika diskusi di ClubHouse terasa sangat berkelas.

Tapi, kelas masyarakat ini juga tidak memiliki cukup waktu untuk selalu bergabung dengan setiap diskusi di ClubHouse yang begitu terjadwal.

Jika tujuan utama ClubHouse adalah mendapatkan early-adopter berprofil tinggi, mereka berhasil. Tapi, jika tujuan mereka adalah mendapatkan early-adopter sebanyak-banyaknya, strategi mereka gagal.

7 Detik Pertama

Kenapa TikTok meroket? Karena TikTok bisa memberikan hiburan hanya dalam 7 detik pertama setelah kita membuka aplikasinya.

Saya lupa membaca soal ini dimana, tapi alasan kenapa sosial media berlomba-lomba memperbaiki algoritma adalah untuk menyajikan konten 'terbaik' bagi masing-masing user saat pertama kali mereka membuka aplikasi.

Jika sosial media berhasil melakukan ini, maka user bisa bertahan pada sesi yang cukup lama. Tapi, jika tidak, maka user akan menutup aplikasi atau bahkan pindah ke aplikasi lainnya.

TikTok sangat berhasil melakukan ini. Instagram dan Facebook sedikit berhasil dengan kehadiran Stories sementara Twitter sepertinya masih coba-coba.

Lalu, bagaimana dengan ClubHouse?

Balik lagi, ClubHouse tidak didesain sama dengan media sosial lainnya. ClubHouse didesain sebagai tempat untuk berdiskusi, seperti sebuah seminar-audio dibandingkan tempat bersenang-senang.

Jadi, tidak heran jika ClubHouse kesulitan dalam memberikan 'hiburan' dalam 7 detik pertama setelah user membuka aplikasinya.

ClubHouse sepertinya akan fokus pada ruang diskusi berprofil tingginya dibandingkan bersaing dengan sosial media lainnya.


Kesimpulan

ClubHouse memang sebuah sosial media, tapi dia tidak bisa disejajarkan atau disamakan dengan TikTok, Facebook, Instagram atau Twitter.

Kenapa tidak?

Karena cara kerjanya 'unik' sendiri. Jadi, ClubHouse itu 'gagal' jika dilihat dari perspektif sebuah sosial media pada umumnya, tapi untuk urusan ClubHouse sebagai sebuah 'ClubHouse', hanya waktu yang bisa menjawabnya.