Saya tidak termasuk orang yang mengikuti perkembangan seri game BioShock, walau saya sering mendengar orang-orang membicarakan seri game ini. Sayangnya, BioShock Infinite adalah satu-satunya yang saya mainkan dari serinya.

Seri BioShock pertama kali muncul pada 2007 dan mendapat perhatian yang sangat besar, sequelnya yaitu BioShock 2 memang tidak sesukses versi pertamanya dalam hal penilaian dari para kritikus. BioShock Infinite merupakan game yang mengembalikan perhatian pada seri BioShock dengan nilai yang sangat tinggi dari para kritikus dan menjadi GOTY (Game of The Year) tahun 2013.

bioshock-infinite-27323-1920x1080

Seri terakhir dari BioShock yang dikerjakan oleh Irrational Games adalah BioShock Infinite : Burial at Sea Episode 2, sebuah ekspansi untuk game BioShock Infinite. Kini, Irrational Games tidak lagi mengerjakan seri BioShock, tapi 2K Games selaku publisher sudah mengkonfirmasi bahwa seri terbaru BioShock sedang dalam proses pengerjaan.

Oke, cukup sekian tentang sejarah seri BioShock, sekarang saya ingin bercerita tentang pengalaman saya bermain BioShock Infinite.

Review? BioShock Infinite 

Dalam game ini, kita akan berperan sebagai Booker DeWitt, seorang mantan anggota Pinkerton (sebuah organisasi detektif). Tugas yang diberikan pada kita adalah mencari seorang gadis bernama Elizabeth di sebuah kota melayang bernama Columbia.

Walau saya menyebut kota melayang, tapi setting dari peristiwa ini adalah tahun 1912. Setting latar yang menarik ini menghasilkan sebuah tampilan teknologi-teknologi masa depan dalam balutan tampilan masa lalu. Di masa ini, ada konflik antara kaum berpaham religi yang dipimpin Comstock dengan kaum berpaham demokrasi yang dipimpin Fitzroy.

Elizabeth sendiri berada di sebuah menara berbentuk patung malaikat yang berada di Columbia. Untuk mencapai tempat tersebut, DeWitt harus memanfaatkan segala sumber daya yang dia miliki, mulai dari senjata, gears hingga kekuatan psychokinetic-nya.

Khusus soal senjata, saya jatuh cinta pada desain senjata dalam game ini. Walau model sangat standar seperti pistol, rifle, shotgun dan lainnya tapi masing-masing senjata didesain sangat sesuai dengan jamannya. Bukan desain yang modern, tapi sebuah desain yang cenderung besar dan sedikit detail pemanis.

Bioshock-infinite-falling

 

Setelah menyelamatkan Elizabeth, DeWitt mengetahui bahwa gadis tersebut punya kekuatan untuk membuka “Tear”, sebuah portal ruang waktu yang sangat menarik sekaligus membuat pusing. Bagian selanjutnya adalah dimana cerita mengalami plot naik turun, menyelamatkan Elizabeth bukanlah sesuatu yang sederhana.

Nah, khusus pada akhir cerita (game) terdapat plot twist yang saya pribadi sangat tidak menyangka dan bahkan butuh waktu beberapa detik setelah credit title untuk menyadarinya.

Seperti kata teman saya, game BioShock Infinite memang tepat memilih visual yang agak ‘kartun’ sehingga tidak akan cepat terlihat ‘kuno’. Walau saya memainkan game ini 3 tahun setelah perilisannya, tapi tidak terasa ‘kuno’ sama sekali. Selain itu, game ini memang menonjolkan plot cerita yang dimiliki sebagai salah satu daya tarik tambah untuk gamenya.

Selamat bermain!

Author

Blogger and Freelance Writer // Mostly writer about video games & my random thoughts.

1 Comment

  1. ceritanya sangat fantasi dan agak membingungkan. Kartun tp seperti nyata. Membingungkan karena ternyata ada beberapa versi dari comstock dan kolumbia tp di versi yg dimainkan inilah Elizabeth (anak dr Boker yg diculik ke Columbia) berhasil dibebaskan dari control Comstock. Dimana Comstock sendiri adalah Booker sendiri yg menerima baptisan di dunia versi lain tsb. Jadi ini seputar mereka berdua yg berasal dr dunia versi berbeda dan beda dunia (bumi dan columbia). Setidaknya happy ending. Saya duga Elizabeth akan menjadi pemimpin di Columbia yg baik dan damai dan tdk akan menyerang bumi / new york. Dan Booker kembali ke alamnya di new york. Begitulah yang saya tangkap dari game tsb. Agak membingungkan tapi karena ini cerita kartun ya bisa apa saja terjadi. Saya pribadi sebenarnya berharap ceritanya menjadi bahwa Robert dan Rosalin Letuce yang memimpin di columbia sedangkan Elizabeth dan Booker kembali ke new york.

Write A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.