Konsisten

#37 Bicara mengenai konsistensi dalam melakukan sesuatu.

Konsisten

Belakangan ini, saya kembali sering membaca buku dan mendengarkan podcast seputar pengembangan diri. Walaupun saya sendiri udah menulis soal Overdosis Pengembangan Diri itu tidak baik.

Ada satu pesan yang sepertinya sudah bosan saya dengarkan dari para 'guru' dalam pengembangan diri yaitu: KONSISTEN.

  • Seorang Youtuber yang sering saya tonton mengatakan dia perlu konsisten penuh membuat video selama DUA TAHUN untuk sampai pada level yang berhasil dicapainya saat ini.
  • Seorang komikus yang saya kagumi hasil karyanya mengatakan bahwa kunci dari kesuksesannya saat ini adalah konsistensinya menggambar selama 5 TAHUN terakhir.
  • Seorang entrepreneur yang sudah saya anggap sebagai mentor mengakui bahwa konsistensinya untuk terus membangun BANYAK BISNIS 'GAGAL' adalah alasan dia memiliki bisnis sukses saat ini.

Saya sih sebenarnya sudah sedikit mengetahui soal rahasia sukses bernama konsistensi ini. Ini juga alasan kenapa saya 'memaksa' diri untuk menulis selama 100 hari (walau masih sering bolong).

Tapi, saya masih penasaran, kenapa konsistensi lebih sering berujung pada kesuksesan ya? Mari coba kita bahas.


Membangun Kebiasaan dan Momentum

Photo by Bradyn Trollip / Unsplash

Katanya konsistensi akan membentuk kebiasaan dan pada akhirnya akan menghasilkan momentum. Momentum seperti apa? Momentum dari satu kebiasaan baik menuju kebiasaan baik lainnya.

Contohnya nih...

Saya ingin konsisten melakukan olahraga setidaknya 3 jam seminggu.

Kok dikit? Dude, it better than nothing!

Walau awalnya harus 'terpaksa' banget, tapi saya tetap memaksa diri untuk terus mencapai target itu apapun yang terjadi. Saya juga menggunakan prinsip reward and punishment jika memang diperlukan.

Pada satu titik, olahraga ini akan jadi kebiasaan yang saya lakukan bukan karena terpaksa lagi. Maka, pelan-pelan ini akan membentuk momentum...

Misalnya karena saya olahraga setiap hari, stamina saya jadi lebih baik. Saat stamina lebih baik, saya bisa bekerja dengan lebih produktif. Karena pekerjaan bisa lebih banyak yang selesai, maka duit juga jadi lebih banyak. Pokoknya membentuk efek domino yang ujungnya bisa sangat besar.

Sedikit Demi Sedikit Lama Lama Jadi Bukit

Cute piggy bank
Photo by Fabian Blank / Unsplash

Ini prinsip yang dimiliki oleh konsistensi.

Let me explain...

Menjelaskan ini paling gampang dengan konsep uang. Misalnya, saya secara konsisten menabung Rp.100.000 setiap minggu. Apapun yang terjadi, saya akan selalu mengalokasikan Rp.100.000 ke dalam rekening tabungan. Entah itu artinya saya enggak bisa jajan dulu.

Dalam 5 tahun saja, saya sudah punya 26 juta dengan konsisten menabung Rp.100.000 setiap minggunya.

Prinsip ini juga bekerja dalam bisnis sih. Misalnya, saya sudah bisa menjual satu baju saja setiap minggunya.

Maka dalam setahun, berapa baju yang terjual? MINIMAL 52 baju. Kok minimal? Kalau pelanggan puas, mustahil mereka tidak membeli lagi atau tidak mempromosikan produk yang disukainya.

Bagaimana membuat pelanggan puas? Dengan konsisten memberikan layanan dan produk yang terbaik. See? Kuncinya adalah konsisten.


Konsistensi Bisa Mengalahkan Talenta

Photo by fotografierende / Unsplash

Banyak orang yang mengira kalau saya adalah orang yang gifted dalam hal menulis. Padahal sebenarnya tidak. Kualitas tulisan saya masih sangat-sangat jauh dari level penulis hebat lainnya.

Tapi, banyak orang mengira seperti itu pasti ada alasannya bukan?

  • Mungkin mereka pernah melihat saya menulis satu topik baru dengan sangat cepat.
  • Mungkin mereka membaca tulisan-tulisan saya di blog ini.
  • Atau mungkin mereka mendengar rekomendasi dari orang lain.

Jawaban sebenarnya sih sama seperti orang-orang yang saya tuliskan diawal tulisan ini yaitu KONSISTEN.

Saya sudah suka menulis sejak SD, saat SMP saya jadi tau kalau menulis itu bisa menghasilkan uang. Di masa SMA-Kuliah, saya menghasilkan uang hanya dari menulis.

Bahkan sampai sudah bekerja pun, kemampuan saya menulis yang didapat dari bertahun-tahun menulis banyak hal ternyata masih sangat berguna. Saya bahkan mencantumkan BELAJAR NULIS sebagai salah satu dari 25 hal yang saya anggap penting di usia 25 tahun.


Akhir Kata

Bingung juga sih sebenarnya mau menulis apa sebagai penutup. Gini deh... Kalau kamu ingin konsisten melakukan sesuatu, coba lakukan setidaknya selama 20 jam.

Kalau kamu benar-benar enggak sanggup lagi setelah 20 jam tersebut, ya udah.

Kalau sanggup, maka lanjutkan jadi 21 hari. Dan jika sanggup menjalaninya selama 21 hari, lanjutkan jadi 100 hari.

Maka, nanti dengan sendirinya akan jadi kebiasaan.