Melepaskan Si Bungsu
3 min read

Melepaskan Si Bungsu

Cerita melepaskan si (gigi) bungsu yang sering bikin sakit gigi.
Melepaskan Si Bungsu
Photo by Lesly Juarez / Unsplash

Kemarin malam, salah satu gigi bungsuku (geraham terakhir) harus dicabut karena memang sudah rusak dan sering bikin sakit gigi.

Ternyata proses 'melepaskan' sesuatu, apapun itu, memang seharusnya sakit ya.


Kenalan sama Si Gigi Bungsu

Photo by Bogdan condr / Unsplash

Jadi sebenarnya, si bungsu ini udah mulai menunjukan tanda-tanda kerusakan parah sejak beberapa bulan lalu. Aku sih sebenarnya udah sadar kalau suatu hari nanti, dia harus dilepaskan.

Hampir setiap check-up ke dokter gigi selalu diingatkan kalau si bungsu ini udah rusak, apalagi tumbuhnya agak miring. Kalau bahasa dokter giginya dibuat lebih nusuk.

Yang dia bisa lakukan cuma menyakitimu dan bisa merusak gigimu yang masih sehat dan berguna.

Tapi, setiap diingatkan, akunya juga sih yang bandel dan enggak mau cabut dulu. Kenapa? Jujur karena takut sama rasa sakitnya. Bahkan pada satu titik, dokter giginya saking keselnya sampai bilang

Gigi bungsumu itu udah gak ada gunanya. Dipakai makan sakit, dipertahanin nyakitin.

Untung dokter giginya tante sendiri. Jadi, masih bisalah ngeles ngeles dikit. Selalu bilang "next time deh dicabutnya ya."


Detik-Detik Melepaskan Si Bungsu

Kemarin sebenarnya dari pagi udah agak pusing, bukan karena sakit gigi sih tapi karena kelelahan setelah pulang dari Kintamani pas weekend. Entah kenapa jadi punya keinginan dan keberanian untuk (akhirnya) mencabut si bungsu ini.

Akhirnya pergi ke dokter gigi sendirian. Kenapa? Biar kalau nanti nangis, enggak ada yang videoin hehe :)

Pas naik ke kursinya, jujur aja nih, jantung berdegup kencang banget, udah kayak orang jatuh cinta. Kenapa? Ya kenapa lagi kalau bukan karena takut.

Prosesnya dimulai dengan bius dulu. Dari semua proses cabut gigi bungsu kemarin malem, sebenarnya paling takut sama biusnya. Karena takutnya aja ngerasain sakitnya bagian dalam mulut kena jarum suntik.

Eh ternyata enggak sesakit itu. Dokter giginya terus-terusan bilang "rileks ya".

Setelah di suntik bius, ngapain lagi? Nunggu.

Nungguin apa? Menunggu hingga bagian rongga mulut dimana si bungsu ini berada jadi mati rasa. Prosesnya kemarin sebenarnya agak lama hingga bagian mulut, ujung lidah dan bibir itu agak mati rasa gitu.

Kok harus mati rasa dulu? Ya, karena kalau kamunya masih punya rasa, proses melepaskannya pasti sakit banget sih.

Selanjutnya apa?

Kurang paham sebenarnya proses selanjutnya gimana, tapi gigi kayak digoyang-goyang gitu sih. Beberapa bagian gusi(?) juga dipotong gitulah pokoknya.

Proses goyang-goyang gigi ini lama dan yang paling sakit. Gigi udah rusak, digoyang-goyang, beberapa bagian juga jadi patah sih jadinya. Tapi, mau gimana lagi kan ya?

Hingga akhirnya si bungsu lepas!

Rasanya sih biasa aja ya sebenarnya. Enggak ada yang terlalu istimewa atau plong banget karena dia emang lagi enggak sakit.


Setelah Kepergian Si Bungsu

Pas kembali pulang dari dokter gigi, rasanya bahagia banget. Akhirnya si bungsu ini enggak akan menyakiti lagi. Ya, walaupun gusi masih terus berdarah-darah ya karena kehilangan salah satu penghuninya.

Malah bisa ketawa-tawa sambil ngirim voice note suara aneh ke temen-temen karena bibir mati rasa sebagian, jadi gak bisa ngomong jelas.

Oh ya, yang paling seru adalah... Dokter giginya melarang makan panas dan pedas dulu selama sekitar 24 jam. Tapi, menyarankan makan yang dingin-dingin. Kapan lagi pulang dari dokter bisa makan es krim kan?

Tadi pagi pas bangun... Gusi cenut-cenut. Iya, si bungsu emang udah hilang. Tapi lukanya masih. Enaknya, healing luka ini menyenangkan. Makan es krim :)


"After-Party" Thought

Photo by Kenny Eliason / Unsplash

Seperti aku udah tulis diawal banget. Ternyata proses 'melepaskan' sesuatu, apapun itu, memang seharusnya sakit ya.

Dari kejadian mencabut (melepaskan) si gigi bungsu kemarin. Aku jadi tercerahkan kalau:

  • Proses melepaskan sesuatu itu, kadang enggak perlu momen khusus. Enggak selalu pas dia menyakitimu, bisa saja saat kamu merasa biasa aja.
  • Keputusan untuk melepaskan harus dimulai dari kamu mati rasa atau merasa biasa aja dulu. Karena kamu masih punya perasaan, pasti rasanya sakit banget. Kadang, proses inilah yang paling lama.
  • Melepaskan itu memang seharusnya sakit. Kalau kamu belum sakit, berarti kamu belum benar-benar melepaskannya.
  • Ketika kamu udah 100% melepaskan, kamu enggak akan langsung merasakan nikmatnya. Tapi, percaya deh rasa sakit itu akan kembali sesekali dalam waktu dekat.
  • Hal yang perlu kamu ingat. Ketika kamu udah berani melepaskan 100%, maka 'healing'-mu akan terasa jauh lebih menyenangkan.
  • Dan ingat bahwa apa yang kamu lepaskan, tidak akan pernah menyakitimu lagi.