Cyberpunk 2077 jadi salah satu game yang paling ditunggu tahun 2020 ini. Salah satu alasannya karena nama CD Projekt Red dan kesuksesan mereka membawa The Witcher jadi salah satu seri video game yang legendaris.

Kabarnya, game ini sudah dalam masa pembuatan (development) selama 8 tahun bahkan sudah mengalami delay selama hampir satu tahun. Kemudian, pada 10 Desember 2020, game ini secara resmi dirilis.

CD Projekt Red kabarnya sudah ‘untung’ di hari pertama. Artinya, biaya pengerjaan game ini selama 8 tahun sudah terbayarkan hanya dalam sehari setelah game ini dirilis. Tapi, seperti apa sih sebenarnya Cyberpunk 2077? Berikut ini review saya.

Masih Penuh Bugs

Developer Cyberpunk 2077 mengatakan bahwa game mereka sudah playable pada awal tahun 2020, tapi mereka ingin melakukan sentuhan akhir pada calon masterpiece mereka. Hingga pada bulan Oktober 2020, mereka mengumumkan bahwa Cyberpunk 2077 sudah masuk fase gold yang artinya sudah selesai dan siap dipasarkan.

Tapi, saat game ini dirilis pada 10 Desember…

Bugs masih banyak ditemukan, bukan hanya bug dan glitch kecil tapi hingga membuat game mengalami force close.

Saya sendiri mengalami force close hingga 2 kali dalam 30 menit saat memainkan game ini di versi 1.00. Belum lagi masalah rendering yang membuat grafiknya terlihat seperti masa-masa awal PUBG.

Versi 1.04 yang datang beberapa hari setelah perilisan gamenya meningkatkan kestabilan dan performa Cyberpunk 2077 secara menyeluruh, tapi masih belum maksimal.

Cerita Main Storyline yang Pendek

Cyberpunk 2077 termasuk game yang sangat ambisius, tapi sayangnya main storyline atau cerita utama yang disajikan terlalu singkat. Saya memainkan game ini kurang dari 25 jam dan sudah menyelesaikan main storyline-nya.

Beruntungnya, game ini memiliki multiple ending dan multiple lifepath sehingga para pemainnya punya alasan untuk bermain ulang dan memilih alur cerita yang berbeda.

Side Quest yang Punya Karakter

Main storyline yang pendek ini terobati dengan side quest yang super banyak yang punya karakternya masing-masing. Saya yakin bahwa para writer dibalik game ini menghabiskan cukup banyak waktu untuk memoles side quest, atau apakah ini adalah alasan kenapa main storyline-nya kurang dapat perhatian?

Side quest ini diberikan oleh NPC yang memiliki karakter yang berbeda juga, tiap side quest pun memiliki prefered method untuk diselesaikan misalnya gun blazing atau stealth, tapi menyelesaikan side quest tanpa mengikuti metode yang direkomendasikan tidak selalu membuatnya gagal.

AI yang Masih Harus Banyak Belajar

Tapi, lagi-lagi… Side quest yang sudah keren dan punya karakter ini harus sedikit dirusak dengan kualitas AI yang terlalu ‘dasar’.

Entah ini ada hubungannya dengan bugs yang masih cukup banyak di Cyberpunk 2077 atau tidak, tapi AI terasa terlalu dasar, terlalu banyak diam dan mindless. Terkadang, AI akan melakukan flanking atau bahkan melemparkan granat jika pemain bersembunyi terlalu lama.

Tapi, lebih sering AI akan diam begitu saja di satu tempat dan hanya menembak ke arah pemain sesekali.

Driving yang Imersif tapi Payah

Ada tiga metode transportasi untuk pindah satu satu titik ke titik lain di Cyberpunk 2077 yaitu berjalan, fast travel dan berkendara (mobil dan motor). Kendali motor di game ini terbilang masih oke, bukan yang terbaik tapi tidak merusak pengalaman bermain.

Hal yang sama tidak bisa dikatakan untuk pengalaman berkendara mobilnya. Drivingnya terasa imersif, terutama di mode first person tapi handlingnya terasa sangat payah. Mobil terasa sangat licin dan untuk berhenti pun terasa sangat sulit.

Walau mobil terasa licin, tapi untuk melakukan drifting pun sangatlah sulit karena handling yang payah tadi. Semoga CD Projekt Red akan memperbaiki atau bahkan melakukan overhaul pada sistem driving di game ini.

Gun Gameplay yang Menyenangkan

Driving di Cyberpunk 2077 memang payah, tapi gun gameplay mereka patut diacungi jempol. Beberapa senjata terasa sangat unik, apalagi senjata yang masuk dalam kategori ‘iconic’ yang memiliki karakternya masing-masing. Mulai yang yang memiliki unlimited ammo hingga yang bisa bicara!

Menembak musuh dan mendapatkan headshot terasa begitu memuaskan dalam game ini, walau tidak sememuaskan saat bermain seri Call of Duty, tapi masih lebih memuaskan dari seri Fallout.

Melee Combat yang Biasa Aja

Nah, bicara soal Fallout, melee combat dalam Cyberpunk 2077 ini tidak jauh beda dengan seri game Fallout/TES dari Bethesda, hanya ada normal attack dan strong attack yang mengayun ke kiri dan ke kanan.

Kehadiran mod seperti Gorilla Arm dan Mantis Blade memberikan sedikit pembaruan pada sistem melee combat di game ini, tapi selebihnya, tidak jauh berbeda dengan Skyrim.

Night City yang Jadi Daya Tarik Utama

Main story-nya pendek, drivingnya payah, AI-nya kaku, lalu, apa yang menarik dari Cyberpunk 2077? Night City!

Harus diakui, pesona dari Night City adalah salah satu daya tarik utama dari game ini. Ukurannya memang tidak sebesar The Witcher 3: Wild Hunt apalagi seri terbaru Assassin’s Creed. Dunia dari Cyberpunk 2077 ini dibuat padat tapi tidak melelahkan.

NPC yang berjalan dan berkendara dibuat cukup variatif, setiap beberapa ratus meter ada side quest / activity yang bisa dilakukan. Game ini juga memanfaatkan verticallity dengan baik, sehingga dalam satu gedung yang sama, bisa terdapat beberapa mission berbeda yang bisa terjadi.

Tapi, kepadatan Night City ini tidak melelahkan, dalam arti tidak ada dua side quest / activity yang mirip dalam satu kawasan yang berdekatan. Side quest yang memiliki karakter juga membuatnya tidak membosankan.

Penuh Kejeniusan Kecil

Game Open-World selalu punya masalah dengan NPC, dari GTA V hingga seri terbaru Watch Dogs. Cyberpunk 2077 pun tidak luput dari masalah ini, tapi tim developer dibaliknya melakukan hal-hal kecil yang jenius untuk mengakalinya.

Game ini hanya ‘merender’ atau ‘memunculkan’ kendaraan/NPC yang dilihat oleh pemain, saat pemain sudah berpaling, maka mobil dan NPC dibuat menghilang.

Beberapa orang mungkin menganggap ini sebagai sebagai bug/glitch, tapi dibanding harus sering berurusan dengan mobil yang tiba-tiba menabrak atau NPC yang terlihat stuck dimana-mana, saya lebih suka metode ini.

Kurang impersif memang, tapi melihat state dari game ini sekarang, hal ini harusnya kita syukuri karena membatu dalam performa game itu sendiri agar bisa berjalan dengan lebih lancar.

Johnny Silverhand a.k.a Keanu Reeves yang Memukau

Agak sulit menjelaskan poin ini tanpa adanya sedikit spoiler, jadi, kalau belum menyelesaikan main story dari Cyberpunk. Silahkan skip ke bagian akhir.

Penampilan Keanu Reeves sebagai Johnny Silverhand dalam Cyberpunk 2077 bukan sekedar celebrity guest, tapi sudah menjadi bagian dari cerita utama.

Karakter Silverhand ditulis dengan sangat solid dan rapi, kehadirannya bukan sekedar pelengkap cerita bahkan di beberapa titik bisa mempengaruhi keputusan yang diambil oleh pemain. Dinamika hubungan antara V dan Silverhand sangat terasa, mulai dari awal dimana Silverhand dan V ingin saling menyingkirkan hingga di akhir dimana keduanya berusaha untuk menerima.

Mengingatkan pada hubungan antara Naruto dan Kurama.


Akhir Kata

Cyberpunk 2077 sulit untuk menjadi pemenang Game of The Year tahun depan.

Berbeda dengan The Witcher 3 yang walaupun memiliki bug dan glitch hingga sistem kendali yang pada akhirnya diubah total, The Witcher 3 dirilis sebagai game yang ‘selesai’. Ceritanya rapi, karakternya kuat, game-nya rampung dan segala masalah diselesaikan dalam beberapa bulan kemudian. Perpaduan inilah yang membuat The Witcher 3 bahkan masih sangat layak untuk dimainkan 5 tahun setelah dirilis.

Cerita berbeda terjadi pada Cyberpunk 2077. Glitch dan bugs memang hal lumrah dalam game dari CD Projekt Red, tapi walaupun cerita dan karakternya masih memiliki kualitas sebagus The Witcher 3, masalah besarnya ada pada produksi gamenya itu sendiri.

Entah karena fans yang terlalu mendorong developer untuk segera merilis, pihak developer yang tidak bagus dalam menghitung waktu produksi yang diperlukan atau pihak manajemen yang memaksa untuk game ini agar segera dirilis. Intinya, there is something wrong with its launch!

Dan… Belum lagi nasib yang dialami oleh para pemain yang bermain di versi standar dari PS4 dan Xbox One yang seakan dianaktirikan.

Saya tidak punya keraguan bahwa CD Projekt Red akan merilis patch untuk memperbaiki game ini di masa mendatang. Bahkan mereka sudah menjanjikan update besar di Februari 2021.

Tapi, ketidakjujuran mereka dalam menunjukan versi di PS4 dan Xbox One standar selama masa marketing, dan hanya menunjukan versi PC saja akan menjadi sebuah catatan besar di benak para gamer.

About the Author

Ari

Blogger and Freelance Writer // Mostly writer about video games & my random thoughts.

View All Articles